Review Makna Lagu Peradaban – .Feast: Manusia yang Rusak. Di tengah gejolak sosial dan politik yang masih membara di Indonesia pada awal 2026, lagu “Peradaban” dari .Feast kembali menjadi sorotan setelah penampilan live band ini di festival musik Pestapora akhir 2025. Dirilis pada 2018 sebagai bagian dari album “Multiverses”, lagu ini diciptakan oleh Baskara Putra, vokalis utama .Feast, dengan kolaborasi Ramengvrl yang menambah sentuhan rap tajam. Makna utamanya, “manusia yang rusak” dalam peradaban modern – kritik pedas terhadap radikalisme, ketidakadilan sosial, dan kehancuran nilai kemanusiaan – membuatnya tetap relevan. Baru-baru ini, lagu ini viral lagi di TikTok setelah digunakan sebagai backsound video protes lingkungan, memicu diskusi online tentang isu kemanusiaan. Di era di mana konflik agama dan politik sering mendominasi berita, review makna “Peradaban” terasa seperti cermin masyarakat. Dalam ulasan ini, kita bedah lapis demi lapis, dari inspirasi hingga pesan abadinya, dengan nada santai tapi tajam. ARTI LAGU
Latar Belakang Lagu dan Band: Review Makna Lagu Peradaban – .Feast: Manusia yang Rusak
.Feast dibentuk pada 2012 di Jakarta oleh Baskara Putra, yang juga dikenal sebagai musisi indie rock dengan lirik provokatif. Band ini terdiri dari Baskara (vokal), Adnan Satyanegara (gitar), Dicky Renanda (gitar), dan anggota lain yang berganti. Mereka melejit lewat album debut “Camouflage” pada 2014, diikuti “Multiverses” pada 2018 yang lebih eksperimental, menggabungkan rock, hip-hop, dan elemen elektronik. “Peradaban” menjadi single utama, direkam di studio independen dengan produksi minimalis tapi intens: riff gitar berat, beat rap cepat, dan vokal growl yang menciptakan nuansa chaos. Inspirasi lagu ini datang dari pengamatan Baskara terhadap isu sosial saat itu, seperti pembakaran tempat ibadah dan radikalisme yang marak. Saat rilis, lagu ini langsung kontroversial, dengan jutaan stream di Spotify dan view di YouTube. .Feast sering tampil di festival seperti We The Fest atau Joyland, dan pada 2025, mereka rilis album baru “Abdi Lara Insani” yang tema mirip, membuat “Peradaban” ikut naik daun lagi. Karir band ini terus berkembang: di 2026, mereka rencanakan tur Asia, dengan “Peradaban” sebagai lagu pembuka, membuktikan kritik sosial tetap jadi ciri khas mereka.
Analisis Lirik dan Makna Utama: Review Makna Lagu Peradaban – .Feast: Manusia yang Rusak
Lirik “Peradaban” dimulai dengan seruan tegas: “Bawa pesan ini ke persekutuanmu, tempat ibadah terbakar lagi.” Baris ini langsung menyiratkan makna inti: manusia yang rusak karena fanatisme buta, di mana agama dijadikan alat kekerasan. Tema “manusia yang rusak” terlihat jelas di seluruh lagu, mengkritik peradaban yang seharusnya maju tapi malah mundur karena prejudice dan korupsi. Bagian rap Ramengvrl: “Karena peradaban takkan pernah mati walau diledakkan,” menekankan ketahanan manusia, tapi juga ironis – peradaban hidup tapi rusak oleh tangan sendiri. Baskara sisipkan elemen sejarah: referensi revolusi dan perjuangan yang belum selesai, seperti “Luka sejarah yang tak pernah sembuh.” Dari sudut semiotik, lirik ini penuh simbol: api sebagai kehancuran, persekutuan sebagai kelompok radikal. Psikologisnya, ini mencerminkan trauma kolektif masyarakat Indonesia pasca-reformasi, di mana konflik sosial meninggalkan luka abadi. Bridge lagu menambah kedalaman: “Tak boleh ada yang menyesal dengan pilihan hidupnya,” ajak introspeksi – manusia rusak karena pilihan salah, tapi ada harapan perbaikan. Secara musikal, tempo cepat dan distorsi gitar memperkuat kemarahan, seolah teriakan doa untuk bangsa. Secara keseluruhan, maknanya bukan sekadar kritik, tapi panggilan aksi: peradaban rusak karena manusia, tapi bisa diperbaiki oleh manusia juga.
Dampak dan Relevansi di Masa Kini
Sejak rilis, “Peradaban” telah memengaruhi budaya musik dan sosial Indonesia. Di 2026, lagu ini masih sering dibahas di podcast seperti “Endgame” atau forum online, terutama setelah kontroversi politik akhir 2025 yang mirip tema liriknya. Dampaknya terlihat di media sosial: hashtag #PeradabanFeast punya jutaan post, dari analisis lirik hingga meme kritik pemerintah. Musisi seperti Hindia (proyek solo Baskara) sering cover versi akustik, menambah variasi. Secara sosial, maknanya resonan di tengah isu radikalisme dan intoleransi, seperti kasus pembakaran gereja baru-baru ini. Lagu ini dipakai di kampanye hak asasi manusia oleh organisasi seperti Amnesty Indonesia, menekankan pentingnya dialog antaragama. Review dari komunitas musik indie puji “Peradaban” sebagai lagu rebel, kontras dengan pop mainstream yang ringan. Kritik muncul soal lirik terlalu keras, tapi justru itu kekuatannya – bikin pendengar mikir. Ekonomi-wise, royalti dari stream terus stabil, terutama setelah masuk playlist global Spotify seperti “Indie Rock Indonesia”. Di era 2026 dengan maraknya AI musik, “Peradaban” ingatkan nilai autentisitas kritik sosial. Relevansinya tak pudar; malah semakin kuat saat .Feast rilis single baru pada Februari 2026, dengan tema lingkungan yang rusak oleh manusia, membangkitkan diskusi tentang evolusi pesan mereka.
Kesimpulan
“Peradaban” dari .Feast adalah karya tajam yang abadi, menggambarkan manusia yang rusak sebagai akar masalah peradaban. Maknanya tentang kritik radikalisme dan harapan perbaikan tetap relevan di 2026, di mana konflik sosial masih jadi headline. Lagu ini bukan sekadar musik, tapi cermin untuk introspeksi masyarakat. Dengan karir .Feast yang terus bersinar, ia jadi inspirasi bagi generasi muda. Ini reminder bahwa peradaban tak mati, tapi butuh manusia yang tak rusak untuk menjaganya. Jika Anda belum dengar lagi, putar sekarang – maknanya mungkin terasa lebih pedas di masa kini. .Feast buktikan, rock bisa jadi senjata perubahan.